Media social, kata-kata yang tentu tidak asing lagi bagi kita semua. Sebagian besar orang yang telah memiliki smart phone pada umumnya sudah memiliki akunnya dari Facebook, Instagram, Twitter, LinkedIn hingga Youtube.

Yah siapa yang tidak mengenal semua platform itu? Penggunanya di Negara ini lebih dari setengah dari penduduk Indonesia sendiri. Berbagai watak, berbagai prilaku, berbagai latar belakang yang menggunakan social media ini sehingga ada yang menggunakan untuk hal negative seperti berbuat kejahatan dan aja juga yang menggunakannya untuk hal positif seperti dakwah, membentuk komunitas saling tolong menolong, dan untuk membantu mengembangkan bisnis.

Nah jika disuruh memilih mau bahas yang mana, tentu saya saya lebih suka membahas tentang menggunakan social media untuk mengembangkan bisnis. Alasannya, ya suka aja.. hehe

Sosial Media Untuk Perniagaan/Bisnis

Sekalipun pengguna social media di Negara ini cukup lumayan banyak terutama Facebook, Instagram dan Twitter, namun tidak begitu saya membuat orang yang menggunakan social media untuk bisnisnya langsung sukses. Tidak sedikit yang berhasil dengan berbagai macam usaha dan strategi namun banyak sekali yang gagal dan enggan mencoba kembali serta mengatakan “it’s not working”.

Benarkah demikian? Menurut saya pribadi saya kurang setuju. Perumpamaan saja ketika kita di SD, ada yang sekali diajari matematika langsung bisa, namun ada yang harus diajari berkali-kali sehingga bisa.

Begitupun sosial media untuk bisnis atau perniagaan atau lebih dikenal dengan social media marketing. Ada yang ketika sekali melakukan langsung berhasil, namun ada yang harus berkali-kali melakukan dan mencoba baru dia menemukan hasilnya.

Namun prinsip saya sukses atau keberhasilan itu selalu berpola. Ketika kita memodel kehidupan orang sukses, paling tidak hidup kita akan perlahan berubah menjadi sukses. Begitupun di social media marketing. Semua ada tata caranya, semua ada strateginya.

Lantas bagaimana sebenarnya penggunakan strategi social media yang benar untuk bisnis? Kalau buat saya jawabannya simple banget. JIka kita sudah menggunakan social media dan menghasilkan profit terus menerus, maka itu strateginya benar, namun ketika rugi ya berati strateginya salah.

Mungkin ini yang menjadi jawaban, kenapa yang tiap jam posting jualan namun hasilnya biasa-biasa saja atau bahkan tidak ada profit, sedangkan yang lain hanya sesekali jualan namun profitnya jut-jutan, hehe.

Kembali lagi ini berkaitan dengan strategi dan mindset.

Pondasi Sosial Media Marketing

Ketika kita menggunakan social media untuk berbisnis, kita tidak bisa menggunakannya seperti kita menggunakan iklan. Sosial media adalah tempat bersosialisasi, di mana orang tidak selalu ingin mengeluarkan uang untuk barang yang ditawarkan.

Berbeda ketika beriklan menggunakan media iklan seperti facebook ads, google adwords, instagram ads dan lain sebagainya, memang platform iklan itu didesain untuk mencari / dicari oleh calon buyer tertarget.

Sedangkan social media sendiri tidak didesain untuk itu. Contohnya facebook (personal), didesain untuk memudahkan para membernya untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Algoritma newsfeednya memang dibuat sedemikian rupa sehingga ketika kita posting tetang bisnis namun teman-teman kita tidak tertarik dengan postingan bisnis kita, maka tentu saja tidak akan terjadi interaksi, apa lagi transaksi.

Untuk itu perlu dilakukan strategi tertentu agar orang bisa tertarik terhadap apa yang kita tawarkan melalui media social. Bisa dibilang kita membangun need atau bisa juga disebut mengedukasi target market yang dalam hal ini adalah teman-teman social media kita.

Siklus Sosial Media Marketing untuk Bisnis

Ada sebuah siklus social media marketing yang saya pelajari dari “Sosial Media Certification Program” dari digitalmarketing.com, yang siklus tersebut akan selalu digunakan baik secara sadar ataupun tidak sadar. Yang memanfaatkannya secara sadar akan mendapatkan hasil yang baik dalam pengembangan bisnis yang dia geluti. Siklus tersebut terdiri atas 4 bagian:

Social Listening

Mendengarkan apa pendapat orang-orang tentang produk / jasa dan brand anda di tengah-tengah para penggunanya. Jika anda adalah seorang yang belum memiliki brand, maka anda bisa mencari produk / jasa yang sekiranya bisa anda jual, yang banyak orang berpendapat bagus tentangnya, yang bisa dilihat dari testimoni dan komentar-komentar dari para penggunanya.  Tujuannya adalah owner produk tersebut akan kita jadikan partner supplier dari produk anda yang nantinya tujuannya adalah networking.

Social Influencing

Pada bagian ini, kita mulai memberikan edukasi tentang kebutuhan produk / jasa yang akan kita tawarkan. Prinsip yang saya gunakan dalam tahap influencing sendiri adalah menggunakan prinsip The Hierarchy of Effect Model yag dibuat oleh Robert J Lavidge dan Gary A Steiner.

So bagaimana model yang mereka buat?

Dasar dari influencing ini sendiri tentunya adalah penjualan. Ya pasti lah, namanya juga bisnis. Hehe.

Ada tiga tahap yang harus dilalui oleh calon pembeli sebelum mereka melakukan pembelian yaitu Think, Feel dan Do.

Bagian dari influencing adalah membuat mereka melalui fase think (aware dan mengerti) lalu feel (menyukai).  Caranya adalah menghubungkan produk atau jasa anda dengan 6 kebutuhan dasar manusia yang selalu dimiliki oleh manusia. Secara otomatis kita mengedukasi para prospek kita.

Social Networking 

Tahapan ini adalah mencari partner untuk memperkuat bisnis anda.

Ketika anda belum memiliki brand dan baru memulai usaha, maka networking ini adalah untuk mencari supplier produk atau jasa yang kira-kira bagus untuk ditawarkan kepada prospek anda.

Namun ketika anda sudah memiliki produk atau jasa maka saatnya mencari partner untuk mengembangkan bisnis anda seperti advertiser, pemodal atau Joint Venture.

Sosial Selling/Lead Acquisition

Melakukan penjualan terhadap produk / jasa anda kepada mereka yang sudah teredukasi. Tahapan ini adalah kelanjutan dari tahap influencing dimana prospek anda telah melalui tahap think dan feel.

Mau Mulai Dari Mana?

Jika anda benar-benar baru memulai sebuah bisnis dan belum memiliki produk, mulailah dengan sosial listening, memulai melihat produk-produk apa yang sekiranya bagus untuk dipasarkan. Mulailah mendengar apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang menjadi target prospek anda.

Nah setelah anda menemukan produk apa yang kira-kira para prospek anda butuhkan mulailah dengan sosial networking. Anda tidak perlu membuat produk untuk memulai, perlahan seiring berjalannya waktu anda bisa mulai membuat produk sebagai pelengkap  produk dari supplier anda atau bahkan penggantinya.

Kemudian setelah mulailah dengan sosial influencer. Publikasikan konten-konten yang tujuannya adalah orang membaca apa konten yang anda bagikan, entah melalui postingan status, share artikel ataupun video tujuannya adalah untuk membuat para prospek anda (teman-teman sosial media anda/fans) nantinya membeli produk yang anda tawarkan.

Sekali lagi, saya tegaskan bahwa kita tidak bisa menepatkan sosial media sebagai media iklan. Begitu kita menggunakan sosial media langsung sebagai tempat mempromosikan produk, tanpa anda memperkenalkan diri dan tanpa anda berinteraksi (sosial influence) dengan mereka maka bisa jadi perlahan fans/teman anda akan pergi, karena media sosial adalah media bersosialisasi, bukan media berjualan.

Namun, bisa saja dengan strategi tertentu yang telah dibangun, bisa membantu pengembangan bisnis, dan memaksimalkan profit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *