Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah ebook yang berjudul Email Cooking Book. Isinya menurut saya sangat mengesankan.

Bagaimana tidak, di dalam email tersebut si penulis mencoba untuk menjelaskan bagaimana dia memandang cara dia mengirim email jika dibandingkan oleh “mastah” digital pada umumnya.

Si penulis mengungkapkan jika email-email yang dikirim oleh para “mastah” internet marketing pada umumnya kaku dan sangat berbau penawaran. Tidak jarang memang terlihat tujuannya untuk mengeruk uang dari member listnya.

Cara-cara seperti inilah yang dikritisi oleh Mas Setia Kencana dalam ebooknya yang berjudul Email Cooking Book.

Jika dipikir-pikir apa yang penulis ungkapkan memang ada benarnya.

Pada umumnya para “mastah” IM jika ada penawaran mereka mengirim email, namun jika tidak ada ya menghilang begitu saja.

Seperti seolah-oleh ingin menguruas uang para pembacanya. Hal inilah sebenarnya yang kurang etis. Penulis mencoba melakukan pendekatan yang sedikit berbeda dari mastah pada umumnya yaitu menggunakan pendekatan storytelling dan metafora.

Penggunaan storytelling yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan isi email merupakan hal yang menarik.

Etz tapi storytelling di sini bukan sembarang storytelling lho. Storytelling yang dimaksud adalah sebagai metafora untuk menjelaskan maksud dan tujuan email tersebut agar lebih mudah dimengerti oleh pembaca.

Sebelum saya memiliki ebooknya, saya sebenarnya menjadi subscriber si Penulis. Melihat email yang dikirim begitu unik, menarik dan personal sekali, maka saya tertarik untuk mempelajarinya.

Setelah membaca ebook itu, banyak sekali hal-hal yang mengubah cara berfikir saya tentang email marketing, terutama pendekatan personal dalam mengirim email.

Di dalam email yang sering dia kirimkan, kadang dia sering menceritakan film-film yang dia tonton, cerita yang berkaitan dengan maksud email, bahkan pengalaman pribadinya. Hal inilah yang membuatnya menarik dan berbeda dengan email marketer lain.

Sekalipun terkadang dia memberikan penawaran kepada subscribernya, namun cara dia menawarkan sangat halus sekali sehingga para pembacanya tidak merasa kalau sedang ditawari produk.

Itulah hebatnya storytelling dan metafora.

Tak jarang dia memiliki banyak fans yang selalu menunggu emailnya termasuk saya pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *